Demi Kuasa Yang Makmur, Tidurlah!
KEPADA: SELURUH WARGA REPUBLIK INDONESIA
Kami, para Penguasa, dengan ini menyatakan penjajahan Indonesia untuk kesekian kalinya. Hal-hal mengenai kesejahteraan dan keadilan akan ditunda dalam waktu sesingkat mungkin. Berikut ini kami titipkan beberapa pesan kepada setiap warga Indonesia demi lancarnya kehidupan kebangsaan yang aman dan terjamin:
Kepada para petani di desa-desa, mohon maaf, carilah mata pencaharian yang lain. Sebab masalah kedaulatan pangan bukan lagi urusan kita, jika beras dan daging cukup diimpor maka masalah pangan akan bisa dipertahankan.
Kepada para nelayan yang menjaring harapan di kedalaman nasib, berlayarlah dan terus berlayar dalam keheningan batas teritorial yang semakin rancu.
Kepada mereka yang terserak di pasar-pasar tradisional yang becek dan berlumpur, bersabarlah, sebentar lagi kami akan menggantinya dengan gedung-gedung apartemen dan mal yang mewah.
Kepada para pengamen, hiburlah kami dengan nada-nada putus asa yang menjemukan di warung-warung lesehan setiap malam.
Kepada para gelandangan dan orang-orang gila di jalanan, kami memang kasihan. Tapi, cukup hanya itu yang bisa kami lakukan. Selebihnya, serahkanlah pada derita lingkungan dan masa depan yang bias.
Kepada para penganggur, tetaplah bersyukur. Semoga kesetiaan kalian pada nasib negeri yang semakin uzur tak akan pernah luntur.
Kepada para pemalas, tetaplah setia pada kemalasan kalian dan bersyukurlah sebab negeri ini lebih menghargai pemalas yang doyan berfoya-foya dari pada mereka yang serba kekurangan dan hampir lupa bagaimana rasanya tertawa.
Kepada para guru dan dosen, ajarilah anak didik kalian bagaimana untuk menjadi lupa dan bersandiwara dalam kehidupan. Bersainglah, sebab pendidikan bukan lagi menjadi pengabdian dan intelektualitas sekadar penanda superioritas.
Kepada para mahasiswa, tetaplah belajar di dalam ruang-ruang kelas kalian yang sempit dan tertutup. Tugas kalian hanya belajar dan mencari pekerjaan untuk kemudian menggantikan posisi kami.
Kepada para seniman, teruslah berkarya dan berkesenian, jika perlu tirulah produk-produk asing. Kami akan semakin aman dengan kesenian yang terpisaKepada para penyair, tetaplah menulis sajak-sajak cengeng dan selangkangan. Karena kami tidak butuh puisi yang bercerita soal kemiskinan dan ketidakadilan.
Kepada mereka yang mengaku nasionalis, teruslah bergaya dan berteriak. Kami bangga dengan kalian yang beriman pada pujian dan eksistensi.
Kepada para pemuka agama, tetaplah menjual akhirat di sudut-sudut layar televisi. Lupakanlah persoalan lingkungan, buailah kami dengan popularitas dan manisnya moralitas.
Kepada para pemimpi, tetaplah bermimpi. Karena di negeri ini mimpi-mimpi cuma mampir di buku-buku motivasi.Kepada para pengusaha dan investor asing, tetaplah bersama kami. Kuasa kami, kemakmuran kita. Bersama kita bisa. Kami butuh kalian dan kalian butuh kami.
Kepada para birokrat, teruslah bercecap dan bersilat lidah. Tugas kalian cuma duduk, diam dan jalankan perintah tanpa tanya.
Kepada para birokrat, teruslah bercecap dan bersilat lidah. Tugas kalian cuma duduk, diam dan jalankan perintah tanpa tanya.
Kepada para koruptor, jangan khawatir, kalian cukup bayar sewa kamar penjara dengan harga pantas; kalian nyaman, kami puas. Cukup minta maaf dan selebihnya urusan kami.
Kepada para aparat dan penegak hukum, sudahlah, lebih baik berjualan tutur dari pada bersikap jujur.
Kepada para aparat dan penegak hukum, sudahlah, lebih baik berjualan tutur dari pada bersikap jujur.
Kepada seluruh warga Republik Indonesia, DEMI KUASA YANG MAKMUR, TIDURLAH!
Atas Nama Bangsa IndonesiaKami Para Penguasa
Sumber : BahasanyaIndonesia.com