Ber(b)isik
“Although the masters make the rules.
For the wise men and the fools.
I got nothing, Ma, to live up to.”
Bob Dylan – It’s Alright Ma (I’m Only Bleeding)
Tak ada kabar yang tak baik dan tiada cerita yang tak menarik. Segala tersiar dan menerabas alam imajinasi seolah menjadi petanda bahwa bukan kabar baik yang kita harapkan, namun kebenaran. Tapi siapa sanggup mengunyah kebenaran jika terpaksa harus menepi dari lingkar kenyamanan? Demikianlah kita menyimak hingar-bingar, caci maki, kebisingan, dan setiap berita yang membaur memaksa diri untuk ber(b)isik.
Apa yang sedang terjadi? Setiap suara menyanjung (paksaan) kebenaran sekaligus membebani dengan risiko tak tertanggungkan. Semua orang memainkan peran sebagai agen kepentingan yang saling bersaing menegaskan kenyataan demi perbedaan. Tidak akan pernah ada kesetaraan karena kita memang sedang mengeropos dalam buntalan bineka. Jadikanlah itu mitos karena seperti itulah kita hidup saat ini. Merayakan mitos-mitos dan saling berbaris manis mengikuti arus utama.
Jika kita meluangkan sisa waktu dan membaca rentetan kata tersiar, ada banyak kabar melimpah seperti halnya setumpuk modal yang mengikutinya. Setiap hari kita dipaksa untuk mengunyah (paksaan) kebenaran, telinga dijejali bahana dan mata kian dibutakan oleh aksara-aksara beringas. Setiap warta merupakan kepentingan. Semua cerita adalah gunjingan. Segala kata berujung pada makian. Duduk, diam dan kurangilah berpikir sebab pe(m)ikiran hanya akan membuat kita semakin punah.
Membaca warta ibarat kutukan. Mendengar kabar semakin hambar. Bersatulah dalam khayal dan tetaplah membutakan ingatan. Itu semua karena ingatan cuma milik kaum cerdik cendekia yang menatatap nanar dari singgasana ilmu pengetahuan.
Lalu apa yang kita butuhkan? Hiburan? Tawa canda yang canggung dan melemparkan kita pada keterasingan basi? Hiburan bukanlah sekadar persoalan mengolah hidup menjadi banyolan lapuk. Namun, hiburan merupakan perkara ketika kita harus terus menyadarkan diri bahwa hanya dengan keluguan manusia bisa bertahan hidup.
Apakah kita sedang membangun kesadaran dalam bingkai-bingkai imaji realitas? Ada kebebasan yang ditawarkan di sana. Menafsirkan titik-titik dan menerjemahkan tanda-tanda kehidupan menjadi gerak laju yang mewujud. Bangunan kesadaran akan melahirkan gagasan-gagasan ideal dan saling melengkapi. Namun, apa yang selanjutnya kita lakukan?
Berisik atau berbisik. Itulah pilihan yang harus kita hadapi. Kita tak perlu menjadi peduli karena kepedulian hanyalah milik orang-orang yang ingin peduli. Bahkan, kita tak usah merepotkan diri jika tak ingin peduli, sebab keinginan hanyalah milik orang-orang yang menyongsong kemalangan. Berisiklah semau kita karena tiada kuasa yang sanggup menekan, atau setidaknya anggap saja seperti itu. Berisik bukan berarti melawan, bukan pula bentuk lain dari penindasan. Namun, berbisiklah jika memang tak sanggup berteriak. Berkoarlah tanpa irama. Bernyanyilah dalam diam.
Sumber : BahasanyaIndonesia.com